Salah satu Langkah strategis yang gencar dilaksanakan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan (DISBUNAK) Kabupaten Paser dalam rangka memperbaiki kualitas genetik ternak, mempercepat peningkatan populasi, serta efisiensi waktu dan biaya bagi para peternak adalah dengan optimalisasi kegiatan Inseminasi Buatan (kawin suntik) pada ternak sapi.

Bahan baku utama dalam pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) adalah semen (spermatozoa) dari pejantan unggul yang dikemas dalam sedotan kecil (straw) kemudian diolah dan dibekukan agar dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu. Di dalam setiap straw terdapat jutaan sel sperma dari pejantan unggul yang dibekukan menggunakan N2 (nitrogen) cair.
Syarat mutlak pelaksanaan IB adalah ternak tersebut harus dalam keadaan birahi. Untuk mendeteksi birahi dikenal istilah 3A ; Abang (merah), Aboh (bengkak), Anget (hangat) pada bagian organ reproduksi ternak tersebut. Selain itu juga terjadi perubahan perilaku seperti gelisah, nafsu makan menurun dan standing heat (ternak akan diam apabila dinaiki oleh sapi lain atau pejantan).
Keberhasilan IB dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya; kualitas sperma (straw), kondisi akseptor (ternak yang akan di IB harus sehat dan tidak mengalami gangguan reproduksi), ketepatan dalam mendeteksi birahi dan keterampilan inseminator. Di Kecamatan Paser Belengkong program IB dilaksanakan oleh 5 orang Inseminator terlatih, 2 Inseminator dari Puskeswan dan 3 orang lainnya merupakan kader yang dipercaya untuk membantu pelayanan IB di Kecamatan Paser Belengkong.
Meskipun lebih dari 70% ternak sapi dipelihara secara ekstensif namun berkat edukasi dan program introduksi sapi sawit beberapa tahun silam maka antusias Peternak di Kecamatan Paser Belengkong terbilang tinggi untuk mengikuti kegiatan Inseminasi Buatan.
Salah satu kendala yang dihadapi Inseminator beberapa bulan terakhir adalah kurangnya stok bibit (straw) yang sampai ke Puskeswan. Agar pelayanan IB tetap berjalan maka Sarwono, seorang Inseminator senior berinisiatif untuk membeli bibit (straw) secara swadaya. “Kita tidak bisa tinggal diam, Peternak selalu menghubungi untuk pelayanan IB dan satu-satunya cara adalah membeli bibit secara swadaya” ujarnya.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Puskeswan Paser Belengkong Muslihuddin, S. Pt., M. A.P. menjelaskan bahwa meningkatnya permintaan IB kurun waktu 3 tahun terakhir dikarenakan semakin tingginya ketertarikan masyarakat akan hasil IB yang terbukti menghasilkan bibit-bibit ternak yang berkualitas. “Mengingat ketersediaan bibit yang didistribusikan ke Kabupaten Paser selama ini merupakan bantuan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur, untuk itu kami berharap agar kedepannya ada penambahan bibit (straw) yang dialokasikan dari APBD II Kabupaten Paser” tambahnya. (ah)


